Kadang kita sibuk memperbaiki penampilan luar, tapi lupa merapikan fondasi di dalam. Padahal dalam Islam, yang paling pertama dibangun itu bukan tampilan, tapi keyakinan. Nah, di situlah aqidah Islam mengambil peran. Ia seperti akar pohon—tak terlihat, tapi menentukan kokoh atau tumbangnya kehidupan kita.
![]() |
Apa Itu Aqidah Islam?
Secara bahasa, aqidah berasal dari kata “'aqada” yang berarti mengikat atau menguatkan. Jadi aqidah Islam adalah keyakinan yang terikat kuat di dalam hati, tanpa keraguan sedikit pun.
Dalam istilah syariat, aqidah Islam adalah keimanan yang teguh kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir baik dan buruk—yang dikenal sebagai rukun iman.
Aqidah bukan sekadar teori. Ia hidup. Ia mengalir dalam cara kita berpikir, bersikap, bahkan dalam keputusan kecil sehari-hari. Makanya, kalau aqidah kuat, hidup terasa lebih terarah.
Dalil Aqidah dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menegaskan fondasi aqidah secara sangat jelas. Salah satu ayat yang sering dijadikan dasar adalah:
“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya...”
(QS. Al-Baqarah: 285)
Ayat ini merangkum rukun iman secara utuh.
Kemudian dalam QS. Al-Ikhlas ayat 1–4, Allah berfirman:
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa…”
Surah ini menjadi inti tauhid. Bahkan para ulama menyebutnya sebagai ringkasan aqidah tentang keesaan Allah.
Dalil Aqidah dalam Hadis
Kalau kita bicara tentang aqidah, hampir mustahil tidak menyebut hadis Jibril. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi tentang iman, Rasulullah menjawab:
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.”
Hadis ini jadi pondasi besar dalam pembahasan aqidah Islam. Bahkan banyak kitab aqidah klasik merujuk pada hadis ini sebagai dasar sistematika pembahasan iman.
Penjelasan Aqidah Menurut Ulama Imam Mazhab
Menariknya, empat imam mazhab besar dalam Islam sepakat bahwa aqidah adalah fondasi utama sebelum fiqih.
-
Imam Abu Hanifah menulis kitab Al-Fiqh Al-Akbar yang khusus membahas masalah aqidah. Beliau menegaskan pentingnya mengenal Allah dengan dalil dan keyakinan yang benar.
-
Imam Malik pernah berkata ketika ditanya tentang sifat Allah: “Al-istiwa’ itu diketahui (maknanya), caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan mempertanyakannya adalah bid’ah.” Ini menunjukkan sikap aqidah yang berlandaskan dalil tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
-
Imam Syafi'i menegaskan bahwa beriman kepada Allah dan sifat-sifat-Nya harus sebagaimana datangnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa menolak atau menyerupakannya.
-
Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat tegas dalam menjaga aqidah, terutama saat terjadi ujian besar tentang isu kemakhlukan Al-Qur’an. Beliau mempertahankan keyakinan berdasarkan nash meski mendapat tekanan berat.
Dari sini kita bisa lihat, sebelum membahas halal-haram, para imam sudah menancapkan fondasi aqidah terlebih dahulu.
Contoh Aqidah Islam dalam Kehidupan Sehari-hari
Nah, ini yang sering luput. Aqidah bukan cuma hafalan rukun iman. Ia harus terasa dalam hidup.
Beberapa contohnya:
-
Beriman kepada Allah → membuat kita yakin rezeki sudah diatur, jadi tidak curang atau putus asa.
-
Beriman kepada malaikat → sadar bahwa setiap amal dicatat, jadi lebih hati-hati.
-
Beriman kepada hari akhir → membuat kita berpikir panjang sebelum berbuat zalim.
-
Beriman kepada takdir → menerima ujian dengan sabar dan tidak mudah menyalahkan keadaan.
Coba bayangkan kalau aqidah ini benar-benar hidup dalam diri kita. Dunia mungkin tetap penuh ujian, tapi hati terasa lebih stabil.
Mengapa Aqidah Harus Dipelajari?
Karena kesalahan dalam aqidah bisa merusak seluruh amal. Amal yang banyak tanpa aqidah yang benar ibarat bangunan megah di atas pasir—rapuh dan mudah runtuh.
Ulama selalu mengingatkan bahwa tauhid adalah misi utama para nabi. Bahkan dakwah Rasulullah selama 13 tahun di Makkah fokus membenahi aqidah sebelum hukum-hukum syariat turun secara lengkap.
Jadi, belajar aqidah itu bukan pilihan tambahan. Itu kebutuhan utama.
Penutup: Aqidah, Urusan Hati yang Menentukan Segalanya
Kadang kita merasa iman itu naik turun. Wajar. Tapi fondasinya harus tetap kokoh. Aqidah Islam bukan sekadar konsep teologis, melainkan arah hidup.
Kalau aqidah benar, langkah kita insyaAllah lebih terjaga. Kalau aqidah kuat, badai hidup pun terasa lebih ringan.
Sekarang pertanyaannya sederhana… sudah sejauh mana kita benar-benar memahami dan menjaga aqidah kita sendiri?

Posting Komentar untuk "Pengertian Aqidah Islam, Dalil, dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari"